Pages

18 September 2009

Keselarasan antara Kata dan Perbuatan



Sambil berjalan di pesisir pantai, seekor induk kepiting dan anaknya bercakap-cakap dalam suasana gembira. Akan tetapi, induk kepiting itu tiba-tiba marah. Induk kepiting itu membentak anaknya, "Lihat, betapa jeleknya caramu berjalan! Mengapa engkau tidak dapat berjalan seperti hewan yang lain? Semua hewan lain berjalan ke depan, tetapi engkau berjalan mundur."

Anak kepiting terperanjat mendengar kata-kata ibunya. Ia kemudian menjawab, "Tetapi ibu, aku belajar berjalan dari ibu. Aku berjalan seperti engkau sendiri. Jika ibu menginginkan aku berjalan ke depan, ibu sendiri harus berjalan ke depan."

Induk kepiting itu diam sesaat. Ia kemudian menyadari bahwa apa yang dikatakan anaknya itu benar. Karena itu, ia tidak mengatakan banyak hal lagi dan kemudian mengganti topik pembicaraan dengan sesuatu yang lebih menyenangkan.

Banyak janji diungkapkan oleh para calon presiden dan calon wakil presiden di saat kampanye pemilu sekarang ini. Mau bangun ini, bangun itu. Memberi nasihat ini, nasihat itu. Di setiap kelompok yang dikunjungi janji-janji itu berbeda-beda. Misalnya, ketika berada di tengah-tengah para petani, janjinya akan menyejahterakan petani dengan harga pupuk yang rendah, harga jual gabah yang tinggi, dll. Ketika berada di lingkungan mahasiswa perguruan tinggi negeri, janjinya akan menghapus undang-undang BHP. Ketika berada di lingkungan para ulama, janjinya akan membangun rumah ibadat untuk meningkatkan iman umat kalau nanti yang bersangkutan terpilih untuk memimpin negeri ini.

Banyak orang gampang berjanji, tetapi sulit melaksanakan apa yang dijanjikannya. Orang seperti ini biasa diibaratkan dengan tong kosong nyaring bunyinya. Omongnya banyak, tetapi tidak berisi.

Karena itu, orang seperti ini mesti menyadari dahsyatnya kata-kata yang diucapkan. Kata-kata itu bagai pedang bermata dua. Kata-kata itu memiliki kemampuan yang luar biasa yang memberi kekuatan dan pengaruh dalam kehidupan manusia. Apa yang dikatakan mesti membuahkan hasil yang berlimpah. Ini yang namanya kata-kata yang bertuah atau berbuahkan kebaikan bagi hidup manusia.

Untuk itu, orang mesti selalu waspada dalam bertutur kata. Setiap kata yang diucapkan itu mesti selalu diperhatikan. Karena itu, kata-kata itu dapat saja membuat orang tergelincir. Kata-kata itu dapat membuat orang kehilangan kepercayaan dari orang lain.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar apa yang kita ucapkan itu selaras dengan apa yang kita lakukan. Artinya, tidak ada kesenjangan antara kata yang kita ucapkan dengan perbuatan kita. Mengapa mesti terjadi begini? Karena kepercayaan orang terhadap kita akan tetap bertahan. Orang tidak lagi meragukan kata-kata yang kita ucapkan, karena kata-kata itu menjadi nyata dalam perbuatan.

Mari kita berusaha mewujudkan ungkapan isi hati kita dalam perbuatan-perbuatan yang nyata. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih damai dan bahagia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.




170

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.